Nikmatnya Poligami

Ada yang salah dengan judul di atas? Atau sobat yang menentang keras POLIGAMI akan segera mengeluarkan kritikan atau bantahan atas judul tersebut. Eits!! Tunggu dulu coy. Postingku kali ini memang akan bercerita sedikit tentang Nikmatnya POLIGAMI yang kulakukan dua bulan terakhir.

Yups! Aku belom nikah koqs. Tapi jangan heran juga, karena POLIGAMI yang akan kuceritain terkait dengan keberadaanku di dua tim nasyid di kota Tangerang, TIRTA & The Lines.

Tawaran itu bermula awal April 2008 kemarin saat Mas Ajie, Manajer The Lines, meminta tolong padaku.

"Akh, ana bisa minta tolong nggak?" Tanya Mas Ajie lewat telepon.

"Tolong apa Mas?"

"Gini, 23 April ini The Lines harus ngisi acara di BRI. Tapi kebetulan dua personil kita nggak bisa ikut karena Kamis tersebut hari efektif dan mereka nggak bisa ijin kerja," Mas Ajie mulai cerita latar belakangnya. "Kebetulan satu orang kita udah ada yang ngegantiin. Kita masih butuh satu orang lagi untuk ngisi suara Bariton. Gimana, antum bisa?"

Hmm… aku berpikir sejenak. Boleh juga sih karena kebetulan bulan April & Mei ini TIRTA belum ada agenda.

"Insya Allah Mas," jawabku kemudian.

"OK Kalo gitu. Jangan lupa mulai besok malam kita latihan di tempat ana ya?"

Setelah mengiyakan tawaran Mas Ajie ini, segera ku kabari teman – teman di TIRTA bahwa untuk sementara aku ikut latihannya The Lines dan diminta tolong untuk bantu mereka di acaranya BRI. Awalnya memang temen – temen di TIRTA sempat nggak setuju. Namun, setelah dijelaskan panjang lebar akhirnya mereka coba mengerti posisiku termasuk posisi The Line sekarang.

Esok malamnya, kali pertama aku nimbrung dengan personil – personil The Lines. Wah, subhanallah! Aku baru liat manajemen yang bagus ada di sebuah tim nasyid. Mungkin hal tersebut aku bandingkan dengan manajemen TIRTA. Seragam tertata rapi bahakan inventarisir baik yang sifatnya pendukung performance maupun pendukung latihan tertata rapi di kamar Mas Ajie, tempat latihan berlangsung.

Satu hal lagi yang mungkin tak kudapatkan di TIRTA, partitur. Yups, karena lama aku nggak melihat partitur. Terakhir saat SMA, waktu aku masih aktif di paduan suara. Ini jadi pengalaman menarik, saat aku harus kembali bermain dengan not – not angka dan menyelaraskan nada.

Lain halnya di TIRTA, entah karena semuanya mempunyai feel music yang bagus mungkin atau memang karena tak bisa membaca apalagi membuatnya, kami tak pernah latihan dengan mengandalkan partitur. Selain gitar yang membantu, untuk suara dua tenor atau baritone aku yang mengajarkan teman – temanku di TIRTA. Tak sulit, karena semuanya gampang mengerti.

Kembali lagi ke The Lines. Hari pertama latihan begitu menyenangkan karena tak sulit bergabung dengan suara – suara mereka, ditambah lagi dengan bantuan partitur semakin memudahkanku menguasai cepat lagu – lagu The Lines yang bergenre melayu masih asing ditelingaku. Secara, di TIRTA sebagian besar lagu yang diciptakan bergenre pop. Baru satu lagu yang kubuat bernada minor, itupun belum sempat digarap dengan maksimal.

Hari demi hari berlalu sudah hingga tiba masa untuk tampil. Alhamdulillah di penampilan perdanaku bareng The Lines semuanya berjalan lancar. Yah, walaupun emang sedikit ada problem saat panitianya kehabisan kata – kata liat kita sibuk cek sound. Padahal, ini dikarenakan soundmannya yang bisa dibilang sangat nggak professional alias amatiran.

Wah, ternyata Mas Ajie ngasih kesempatan berikutnya untuk tampil bareng The Lines. 25 Mei 2008 yang siangnya kami harus ke Munasharah Palestine, pagi harinya Erdamah Radio Komunitas Muslim di Kabupaten Tangerang mengundang The Lines untuk memeriahkan Jalan Sehat yang mereka selenggarakan.

Setelah dua kesempatan tersebut, sepertinya aku menemukan dunia baru. Bahkan hamper setiap malam hari diisi dengan latihan nasyid bareng teman2 The Lines. Kendati demikian, aktivitas bareng TIRTA tetap prioritas utama hingga kemudian aku benar – benar dituntut untuk berbuat adil.

Masalahnya bermula saat kuceritakan pada Zeal bahwa hingga pertengahan Juni nanti aku akan hampir setiap pekan bareng The Lines di berbagai acara. Benar saja, Zeal langsung menuntut keseriusanku di TIRTA. Padahal selama ini aku senantiasa berlaku adil untuk keduanya. Buat The Lines walaupun kujadikan prioritas kedua tetap aku selalu hadir dalam latihan – latihan mereka.

Sedangkan TIRTA, aku menganggap tak ada masalah didalamnya. Latihan pekanan tetap jalan seperti biasanya begitu juga dengan lagu – lagu yang kupersiapkan aransemennya insya Allah tetap kugarap walaupun memang sedikit molor dari targetnya.

Suasana tambah memanas saat kesempatan TIRTA tampil di Erdamah 8 Juni kemarin. Sebelumnya, The Lines memang sudah di kontak oleh Panitia untuk mengisi acara dan aku akan terlibat disitu. Sedangkan TIRTA dengan bantuan MR ku dan lobiku ke CEO nya Erdamah akhirnya diberikan kesempatan perdana untuk berpartisipasi di acaranya.

Yups! Satu hari tersebut aku harus membagi waktu untuk The Lines & TIRTA. Belum lagi aku telah menyanggupi tawaran Mas Ajie untuk mengisi nasyid bareng The Lines di walimahnya Akh Dian. Oh…Help! Untunglah TIRTA tampil di awal acara.

Setalah tampil bareng TIRTA segera kuganti kostum putih TIRTA yangkupaia dengan batik hitam yang dibawa Mas Ajie. Alhamdulillah keduanya berjalan lancer.

Ups! Masalah belum usai karena TIRTA masih harus mengisi di sesi kedua. Sedangkankan aku harus ke tempatnya Akh Dian segera. Plz…. Mengerti diriku donk buat semuanya!!!

Mas Ajie akhirnya mengizinkanku untuk menyusul setelah TIRTA tampil atau ba'da Dzuhur ke tempat akh Dian. Tapi hingga penampilan Izis Selesai kemudian dilanjutkan Arruhul Jadid, belum ada kepastian TIRTA tampil pukul berapa. Sedangkan jam di Backstage udah menunjukkan Pukul 13.30 WIB.

hampir saja aku bosan meminta teman2 TIRTA mengerti posisiku sekarang, dimana Akh Dian adalah Roomateku di Salsabila. Desak sana sini akhirnya TIRTA tak tampil di kesempatan kedua namun diminta untuk recording Jingle Erdamah. Lima belas menit akhirnya usai sudah dan segera ku ajak Icam untuk mengatarku ke walimahnya Akh Dian.

Uhh…Poligami, nikmatnya mang bikin melenakan. Tapi nggak sebanding dengan tuntutan untuk senantiasa berbuat adil. So, syapa yang mau?

Post a Comment

0 Comments