I’m so sorry my lovely Uncle

Tadi pagi jam 10-an heran juga lihat anak – anak berseragam Pramuka lengkap. Nyaris aja gue berenti truz nanyain salah satu dari mereka,

"Hiking dimana de?"

Wah!! Ditaroh kemana muka gue sebagai alumnus Pramuka yang sampe sekarang masih mencintai kegiatan – kegiatan yang berhubungan erat dengan Alam.

14 Agustrus Bro? Yoi…. Ternyata anak – anak itu baru saja pulang dari Lap. Ahmad Yani Tangerang setelah katanya 2 Jam upacara untuk memperingatinya.

Apalagi yang ada di 14 Agustus ? Tentunya detik – detik menuju My Birthday tepatnya 10 hari lagi. Nggak cuman Ultah gue, 10 hari lagi juga bakal diadakan acara – acara seru di RCTI dan TVRI sebagai bentuk representasi perayaan Ultah kedua stasiun televise tersebut. Salah satunya nonton RCTI 18 Jam. Ckkkk….Gila abizzz!!

Tapi ternyata guyz, ada satu hal di Tanggal 14 ini yang ternyata mengingatkan kembali gue kenapa gue berada di Tangerang sekarang.

14 Agustus 2004 tepatnya. Waktu itu gue udah nggak sabaran lagi untuk menelepon Poltek GT menanyakan kabar kelulusan. Jam 8 pagi gue udah standby di wartel dekat rumah untuk mengontak Panitia PMB Poltek GT. Tapi sayang, ternyata pengumuman kelulusan baru akan dilaksanakan pukul 10. Jadilah gue nungguin sampe ketiduran di wartel itu.

Gue dibangunin oleh Bang Andre penjaga Wartel saat adzan dzuhur berkumandang. Saking kagetnya udah adzan gue lupa kenapa gue ada di Wartel. Tapi, memang Allah Maha Adil. Dengan tidak diingatkannya saat adzan tadi, setidaknya gue masih bisa menikmati shalat gue tanpa harus harap – harap cemas menanti pengumuman kelulusan.

Alhamdulillah, ba'da rawatib dan bersalaman dengan Tok'Husein *sekarang dah almarhum aku kembali teringat misiku kenapa sampai aku tertidur pulas di Wartelnya Bang Andre.

"Poltek Gajah Tunggal, Selamat Siang… dengan Vero bisa dibantu ?," sapa suara wanita di seberang sana.

"Siang, Bu. Saya mo tanya pengumuman kelulusan tes PMB," jawabku dengan nada tak kalah ramahnya.

"Dengan siapa dan berapa nomor tesnya?"

"Saidurrohman 2103205665," aku menyebutkan nama dan angka – angka yang tertera di kartu tes yang masih kupegang sejak sebulan lalu.

"Saidurrohman…Tunggu sebentar."

Beberapa menit kemudian hanya suara tuts keyboard diketik yang gue dengar.

"Saidurrohman," panggil suara itu lagi.

"Ya, Bu."

"Bagaimana perasaan kamu sendiri?"

"Hmm….," gue mikir sejenak. "Optimis sih bu. Yah, walaupun aku tahu yang diterima cuman 75 orang dari 210 yang tersisa kemarin di tes terakhir."

"Oya? Bagus donk. Dan kalau ternyata kamu nggak lulus bagaimana?"

"Idih, koq jadi kayak wawancara lagi?" kata gue dalam hati tentunya.

"Yah, kalau memang aku nggak lulus berarti Allah nggak berkehendak ngasih jalan buatku meninggalkan kampungku. Mungkin yang terbaik memang masih disini, nerusin usaha keluarga. Toh, yang tau yang terbaik buat hambaNya kan cuman Allah Bu," jawabku sedikit diplomatis.

"Cckck… Kamu cocok jadi kyai kayaknya."

Gleg!! Nggak pernah terbersit sekalipun di benak gue kayaknya.

"OK! Saidurrohman, setelah melewati rangkaian test yang lumayan ketat kami nyatakan kamu LULUS."

"Lulus? Yang bener bu? Alhamdulillah…Allahuakbar!!!"

"Nah….jangan lupa bawa kerupuk Bangka, empek – empek, sama getas ya?" tiba – tiba saja jadi layanan delivery di toko oleh – oleh khas Bangka.

"Bb..Baik Bu," jawabku kaget.

"Ikhlas nggak?"

"OK! Insya Allah… dengan Bu Vero kan?"

"Sipp. Ibu tunggu ya.."

Hampir aja gue jingkrak – jingkrak euphoria dengan kelulusan gue di Test yang melibatkan ribuan calon Mahasiswa itu. Yes~!!~ gue akan Caw ke Pulau Jawa….. Tangerang!! I'm coming…

Gue belom ngasih tau keluarga tentang kelulusan gue. Yang gue telepon pertama kali adalah sahabat gue, Taufik di Tasikmalaya yang juga bareng gue ikut test hingga babak terakhir. Kabar sedih yang gue dapet dari dia. Ternyata sahabat yang kami sama – sama kehilangan sepatu di musholla saat test hari pertama tersebut nggak lulus.

"No Problem bro. gue yakin ada yang terbaik buat lo. Yang penting komunikasi kita bisa terus dijaga," pesaku sebelum kututup sambungan interlokal via handphone tersebut.

Tantangan selanjutnya buat gue adalah memberi kabar ini ke keluarga. Gue yakin ini bukan kabar bahagia buat keluarga gue, terlebih Om gue yang sekarang tokonya gue kelola. Beliau pasti akan kehilangan sekali. Makanya yang gue kasih tahu pertama adalah Ayah, yang gue anggap paling bijak.

"Abang pertimbangkan lagi. Apalagi abang diterima di Teknik Mesin," reaksi Ayah saat aku kabari.

Gue hanya terdiam tapi tetap memikirkan bagaiaman caranya meyakinkan keluarga gue tentang pilihan ini.

"Insya Allah Yah. Abang yakin kalau kelulusan ini adalah tangga awal yang dikasih Allah buat Abang biar lebih berkembang."

"Kalau sudah dipikirkan masak – masak, Ayah hanya bisa dukung keputusan abang."

Begitulah ayah, beliau menyingkapinya dengan bijak.

Hingga dua pekan kemudian gue belum ngasih tau kabar itu ke Om dan Tante termasuk Ibu. Padahal sudah mendekati hari-h alias seminggu lagi untuk daftar ulang. Karenanya berbekal tabungan, gue pesan tiket Sriwijaya Air untuk memantapkan hati bahwa gue harus berangkat.

3 hari menjelang keberangkatan disaat makan malam, gue akhirnya berterus terang ke Om dan Tante. Benar saja, reaksi awal dari Om adalah menolak habis – habisan.

"Bang, kalo abang mau kuliah kan disini juga bisa. Nggak harus jauh – jauh ke Tangerang sana. Apalagi biaya hidup disana nggak murah. Pasti butuh dana yang lumayan setiap bulannya," Om mencoba memberi saran.

"Om sengaja beli mobil baru, biar yang lama bisa Abang pakai untuk berangkat kuliah. Lagian, siapa yang mau ngegantiin abang di Toko?"

Iya juga *tiba – tiba gue sedikit ragu.

"Pokoknya malam ini Abang istikharah minta yang terbaik besok Om dan Tante tunggu keputusannya. Tapi mohon Abang ingat, disini kami masih sangat membutuhkan abang."

Malam harinya gue bener – bener nggak bisa tidur. Gelisah, Bingung, takut seakan menyatu. Menjelang tengah malam akhirnya gue mutusin untuk shalat malam dan kemudian menangis sambil memohon yang terbaik pada Allah hingga kemudian gue nggak sadar tertidur di atas sajadah.

"OK! Kalau sudah jadi keputusan abang. Mudah – mudahan jadi jalan terbaik saja,"

Gue melihat sirat kekecewaan di wajah Om. *I'm so sorry my lovely Uncle.

Dihari keberangkatan sekalipun gue nggak melihat Om mengantarkanku meninggalkan tanah kelahiran ini. Hanya bibi yang sempat menitipkan salam dan meminta gue untuk sering – sering memberi kabar.

4 Tahun sudah, Insya Allah Om… apa yang Abang pilih kemarin jadi jalan terbaik buat Abang. Abang mengenal lebih banyak tentang dunia ini. Bertemu dengan lingkungan yang menentramkan, sahabat – sahabat yang penuh dengan kasih sayang dan optimism, dan Indahnya Anugerah Allah di usia ke-22 ini abang sudah bisa mandiri dan menemukan jati diri yang sebenarnya.

Thanx dan Love for My Family nun jauh di sebarang sana, My dearest friends yang sudah gue anggap keluarga di Tangerang : Dhanu, Zeal, Wawan, Agus, Irsyam, Hari, Ndharu, Ragil, Janu, Mas Fitrah, Mas Hudha, Mas Kamal, Ayah dan Bunda di Rumah Zakat, Pak Gilang Mahesa The Best Father, Pak Trieha yang banyak memberikan pelajaran tentang professionalism, Ust.Abu Syauqi dan Ust.Acep dengan semangatnya, dan semua yang memberikan bimbingan pencerahan dalam hidup ini.

Subhanallahi Walhamdulillahi….

Post a Comment

0 Comments