Ngerokok Haram???

Uhuk!!...Uhuk….

Batukku kambuh lagi. Bukan karena apa, tapi di angkot nih, ada aja yang nggak sopan merokok dan membuang asap penuh racun itu sehingga memenuhi setiap sudut ruangan penumpang yang sempit tersebut.

Makanya pas denger gen FM pagi ini bahwa Pemda DKI sangat mendukung penuh Fatwa MUI tentang haramnya Rokok, tentu aku atau yang lainnya yang alergi dan membenci rokok bisa bernapas lega. Yah, walaupun katanya masih digodok karena beberapa hal, menurutku Fatwa tersebut sangat relevan dengan gaya hidup sekarang yang kayaknya semakin hedonis.

Global warming dan juga penyakit akut yang diakibatkan oleh rokok kayaknya menjadi bahan pertimbangan buat MUI mengeluarkan Fatwa tersebut. Lagian guyz, menurutku ya memang Rokok itu banyak mudhorat nya ketimbang manfaat atau bahkan nggak ada manfaat sama sekali selain gaya – gayaan.

Denger aja komentar salah satu rekan kerja sahabatku Zeal.

"Aku ngerokok cuman di kantor aja koq Je. Nggak enak sama yang laen," jawabnya saat ditanya Zeal kenapa dia harus merokok.

Lain lagi dengan sobat SMA ku Dono yang mulai merokok sejak duduk di bangku kuliah.

"Rokok itu lambang kenjantanan Id. Gimana mo dideketin cewek kalo lo nggak ada maskulinnya sama sekali atau malah kayak banci gitu."

Idih!! Kejantanan apaan??? Jelas – jelas padahal di kemasan rokok tertulis bahwa ROKOK DAPAT MENYEBABKAN IMPOTENSI. Tuh… mana lambang kejantannya Don?

Adit adek kelasku pas SMP lebih parah. Dia yang merokok sejak kelas enam SD katanya mendapatkan hal lain yang lebih nikmat dari merokok.

"Stress gue bisa hilang," katanya.

Astaghfirullah!!!

Sepekan lalu saat aku lagi jalan dari rumah menuju kosannya Zeal, sempat kucuri dengar obrolan bapak – bapak di RT.11

"MUI ada – ada saja. Nggak mikir panjang sepertinya," Bapak yang kumisnya tebal seolah tau segalanya dan udah mikir panjang.

"Iya. Oke kalau yang merokoknya saja yang dapat efek dari keputusan itu. Nah,gimana dengan karyawan rokok di Jawa Timur yang ribuan?" tambah bapak yang agak kerempeng.

Weleh?? Aku cuman bisa geleng – geleng saja. Sepertinya yang musti mikir panjang mereka – mereka yang menentang Fatwa MUI tersebut.

Toh, Bir, Vodka, Tomir, Arak, dan minuman keras lainnya sudah jelas – jelas diharamkan oleh agama dan dikuatkan dengan Fatwa MUI tetap diproduksi massal dengan karyawan ribuan. Lihat saja PT Multi Bintang di Daan Mogot. Setiap sore saat karyawannya yang ribuan itu bubar, macet panjang sudah jelas bakal terjadi.

So, sebenarnya hidup itu Aturan koqs. Nah di antara aturan dan keputusan itu ada Pilihan. Tinggal kita memilih mana yang baik dan mana yang buruk buat kita.

Tak hanya bapak – bapak yang berkomentar seperti tadi. Bahkan teman – teman di kosan Zeal langsung berkomentar saat aku mem-floor-kan rencana Fatwa MUI tersebut pas kita lagi nonton bareng.

"Tenang Ru. Gue ada di barisan lo yang nggak setuju dengan Fatwa tersebut," si Hari berapi – api mengompori Ndahru, salah satu yang merokok di kosan tersebut.

Selain Ndharu ada juga si Bei yang doyan dengan barang yang "sebentar lagi" bakal dikategorikan haram tersebut. Hari sendiri dan empat orang lainnya di kosan tersebut nggak merokok seperti mereka berdua.

"Bro, gue sih cuman ngingetin aja bahwa efek negative yang ada di rokok nggak sebanding dengan manfaat yang kata lo pada bisa jadi efek positif," kataku.

"Selain ngerugiin diri sendiri, coba lo pikir. Dengan lo ngerokok, nikotin di asap yang lo keluarin lebih besar dari yang lo hirup. Itu artinya saat ada yang menghirup asap tersebut itu lebih berbahaya buatnya. Sama aja kan dengan lo membunuh perlahan orang tersebut?"

Post a Comment

0 Comments