RUU Pornografi, Concern Kita Anak

Rancangan Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi, yang kabarnya sedang direvisi, banyak memang kelemahannya. Tapi sebetulnya tidak perlu ditolak, jika semua setuju bahwa pornografi dalam pengertian mengumbar gagasan/adegan/perbuatan cabul (asusila, ketelanjangan), yang disebarkan melalui berbagai media komunikasi (VCD, komik, tabloid, majalah, dan situs Internet), perlu diatur.

Namun, saya tidak habis pikir kenapa ada yang mengatakan bahwa sebuah undang-undang yang mengatur pornografi mungkin memecah kebinekaan? Dalam RUU Pornografi sendiri, adat istiadat kesukuan, kesenian, dan olahraga, sudah dikecualikan. Alternatif yang diusung Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, tapi KUHP perlu direvisi juga karena tidak per se mengatur peredaran pornografi; hanya pelanggaran kesopanan/susila dengan denda terbesar Rp 45 ribu.

Memakan waktu berapa lama merevisi KUHP? Undang-Undang Perlindungan Anak hanya mengatur eksploitasi pada anak. UU Pers? Jelas tidak memadai. Bahkan menolak majalah ikon pornografi dunia saja tidak mampu. Kenapa Singapura mampu? Malaysia dan Brunei mampu. Singapura bahkan memblokir semua majalah sejenis dan situs porno. Mungkinkah Singapura lebih sadar daripada kita tentang bahaya pornografi yang merusak akhlak dan prestasi anak, bahkan mendorong pada kejahatan?

Anak-anak Amerika dilindungi oleh The Child Pornography Prevention Act 1996, juga Protection of Children from Sexual Predators Act 1998, undang-undang yang sangat terperinci dengan sanksi yang berat, meskipun orang dewasa diizinkan mengkonsumsi materi pornografi. Lembaga Pemasyarakatan Tangerang berisi narapidana anak-anak, dengan jumlah pelaku kejahatan seks terbesar kedua setelah kejahatan narkotik. Beberapa sinetron memperlihatkan anak-anak sekolah dalam kegiatan menonton blue film atau menjual keperawanan untuk membeli telepon seluler.

Mungkinkah kejahatan yang diberitakan, tentang anak sekolah menengah pertama memperkosa anak sekolah dasar, bapak mencabuli anak sendiri, dan sebagainya, hanya merupakan puncak gunung es? Beberapa studi mengatakan bahwa anak atau orang yang terangsang syahwatnya akan mencari outlet. Outlet yang paling gampang onani. Memperkosa orang dewasa sukar, tapi memperkosa anak kecil lebih mudah. Menurut banyak studi, pornografi memicu kejahatan. Seharusnya kita seperti orang Singapura dan Amerika Serikat, khawatir terhadap masa depan anak kita yang terancam berbagai kekerasan, termasuk kekerasan pornografi/perbuatan cabul. Seharusnya concern yang mendesak kita adalah menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih buat anak-anak kita.

Inke Maris Aliansi Selamatkan Anak Indonesia Pondok Indah, Kelurahan Pondok Pinang Jakarta Selatan

Post a Comment

0 Comments