Review : Bunda... Aku Ingin Kembali

Tadinya aku mau ngereview Kambing Jantan seperti janjiku sebelumnya ke sobat MPers semua. Hanya saja ketika selesai membaca Novel “Bunda Aku Kembali” terbitan Republika, malah aku bersemangat untuk membagi kisah novel ini ke temen – temen semua.

Berjumpa dengan Novel terbaru dari Republika ini saat hari kedua Islamic Book Fair, tepatnya Ahad (1/3) kemarin di stand Republika tentunya. Aku tahu kalau novel terbitan Republika selalu bagus – bagus, dan mataku langsung tertuju pada sebuah buku bercover anak – anak SD berseragam pramuka. Menggemaskan….
Lalu Mohammad Zaenudin, pengarangnya. Dan Novel “Bunda Aku Kembali” ini bukan novel pertamanya. Lintang Sugianto membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca.

Belum apa – apa, kita sudah disuguhkan jiwa patriotism Muhammad Cholis Ilham, tokoh utama, pada halaman pertama bab pertama juga di Novel ini. Ilham terlambat datang ke sekolah tepat tanggal 17 Agustus. Teman – temannya telah berbaris di lapangan upacara untuk mengikuti perayaan hari kemerdekaan Bangsa Indonesia tersebut. Sedangkan Ilham dan beberapa temannya yang terlambat terpaksa harus upacara di luar pagar yang telah terkunci.

Di luar pagar tak berarti Ilham tak menghormati Sang Merah Putih. Dengan tekad membara, Ilham tetap mengikuti upacara sekalipun beberapa temannya mengajaknya pulang. Ilham berdiri mematung dan siap untuk memberi penghormatan kepada benda yang menyatukan seluruh elemen bangsa ini saat perjuangan melawan penjajah. Sang Saka Merah Putih.

Darahnya berdesir saat komandan upacara meneriakkan aba – aba penghormatan kepada bendera merah putih. Beberapa temannya yang bertugas menyanyikan lagu Indonesia Raya membawakan lagu tersebut penuh hikmad. Ilham member penghormatan hingga aba – aba “Tegak..Grak!” keluar dari mulut sang komandan.

Ilham keturunan Tiong Hoa. Namun begitu, Ilham sangat mencintai tanah air ini. Kakeknya juga salah seoarng pejuang di masa perjuangan dulu. Dengan jiwa heroic dari kakeknya tersebut ilham bertekad akan memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Adegan berikutnya membuatku sangat bangga mengenal Ilham. Bagaimana tidak, anak bermata sipit ini berani mengubah letak bendera yang terlihat tak berkibar. Andi, sahabat sejati ilham sempat melarangnya mengingat resiko yang besar akan ditanggung oleh mereka kalau Pak Salim, kepala sekolah, mengetahui apa yang mereka lakukan terhadap benda yang menjadi keramat di sekolah tersebut.
Ilham memang idealis, tak mendengar larangan Andi, ilham malah menurunkan bendera tersebut untuk membetulkan ikatannya yang ternyata salah. Beberapa teman yang simpati terhadap usaha anak bermata sipit tersebut, berusaha menolongnya. Begitu pula dengan Andi. Namun, usaha mereka diketahui oleh Pak Salim hingga mereka memperoleh hukuman yang sangat berat.

Sukamulya, berada di propinsi Nusa Tenggara barat. Desa yang asri itulah menjadi latar kehidupan Ilham bersama orang tua yang sangat dicintainya. Kehidupan keluarga keturunan Tiong Hoa ini sangat sederhana. Ayahnya seorang pekerja keras yang berdedikasi tinggi untuk daerah tempat tinggal mereka.

Melalui usaha ayahnya, Pak Ilham, kampung yang tadinya berada di bawah garsi kemiskinan beranjak menjadi kampung yang maju dengan tingkat ekonomi yang berkembang pesat. Hal serupa terjadi kepada keluarga ilham. Kondisi ekonomi mereka sangat berkecukupan, bahkan bisa dikatakan sebagai orang kaya di Sukamulya. Namun, pola hidupa sederhana tak meraka tinggalkan.

Ilham beranjak menjadi pemuda yang pintar dan membanggakan orang tuanya. Begitu pula dengan Andi. Di SMA, keduanya selalu bergantian menjadi juara umum. Kalau tak Ilham sudah pasti Andi. Persahabatan yang mereka ukir di pohon akasia SD nya, terus terjalin hingga sesuatu hal terjadi pada keluarga Ilham.

Ayahnya dibunuh, Ibunya hampir di nodai. Fitnah menyeruak kedalam keluarganya. Seketika hidup ilham berubah. Rasa cinta nya kepada negeri ini berbalik menjadi kebencian yang sangat besar. Ilham ingin segera menginggalkan tanah tempat lahirnya. Bersama ibunya Ilham bertekad akan pergi selama – lamanya dari negeri ini, kembali ke kampung halaman ibunya di China. 

Andi tak ingin sahabatnya pergi meninggalkan negeri ini. Terlebih dalam kondisi kebencian yang sangat besar. Sebelum berangkat ke China, Andi berjuang dengan susah payah mencari Ilham di Mataram, tempat Ilham dan Ibunya melakukan transit. Perjuangan mencari Ilham tak semulus yang dibayangkan, hingga sesuatu yang fatal terjadi pada Andi.

Andi harus koma setelah tertabrak truk saat menyeberang jalan menuju Masjid. Keluarga dan pemuka Sukamulya yang ingin Andi selamat menghubungi Ilham. Sekalipun ilham tak bisa kembali, mereka ingin Ilham mengatakan sesuatu kepada Andi. Memberikan kenangan – kenangan manis yang telah mereka jalani sebagai sepasang sahabat sejati.

Namun, kebencian Ilham kepada keluarga Andi juga kepada Indonesia mengalahkan segalanya. Ilham tetap berangkat ke China, dan Andi berpulang ke pangkuanNya.

4 bulan kemudian…. Ilham kembali ke Tanah Air ini. Dengan kasih sayang dan cinta kepada penduduk sukamulya juga kepada Tanah Air Indonesia.

Apa yang menyebabkan keluarga Ilham menjadi berantakan ?

Mengapa Ilham begitu membenci Andi dan Indonesia ?

Apa pula yang melatar belakangi Ilham samapi kembali lagi ke pangkuan Ibu Pertiwi ini ?

Novel ini sangat menarik untuk dibaca. Sungguh sangat menarik. Ada Persahabatan. Ada Cinta. Ada Kasih Sayang. 

Kecintaan Ilham kepada negeri ini sungguh menginspirasi aku untuk selalu memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

aku iri kepada Ilham yang begitu menyayangi keluarganya. Iri kepada persahabatannya dengan Andi yang mampu mengalahkan segalanya. iri kepada pahlawan - pahlawan bangsa yang gagah berani mengusir penjajah dalam usaha mempersatukan tanah air ini. iri kepada mereka semua yang telah berkarya bagi Bangsa ini. Iri kepada mereka yang menharumkan Nama Indonesia di mata International.

Jangan pernah tanyakan apa yang Indonesia berikan untuk kita.

Tapi sebaliknya, tanyakan pada diri anda semua…. Apa yang telah kita berikan untuk Indonesia ?

Post a Comment

0 Comments