Nasionalisme di Garuda di Dadaku


Mendadak Nasionalis. .. itulah beberapa komentar dari teman – teman yang telah menonton Garuda di Dadaku. Penasaran dan memang telah diniatkan dari awal bulan, Senin kemaren setelah berjibaku dengan macet Jakarta yang makin hari makin luar biasa, aku tiba di P3A jam tujuh lebih 15 menit. Disana kemudian aku bertemu dengan sobatku Agus. Dan karena tidak ada jadwal mengajar malam itu iseng aku mengajak Agus menonton film ini.

Kendati belum nonton film wajib Ketika Cinta Bertasbih, Agus Nampak semangat saat ku ajak ke Metos. Jam setengah 8 alias setengah jam lagi sebelum season terakhir Garuda di Dadaku diputer di studio 4 21 Metos, aku tak lagi melihat antrian bejubel untuk film KCB ataupun Garuda. Wah lumayan pikirku. But, dugaanku salah besar. Tiket KCB sudah ludes, begitu juga dengan Garuda yang bersisa di bangku-bangku depan. Bagian tengah bisa, cumin aku dan Agus musti misah. Akhirnya setelah menimbang lebih panjang dan demi kenyamanan menonton, kami rela dipisahkan beberapa penonton agar dapat kursi di bagian tengah.

Oke, balik ke Mendadak Nasionalis. Gimana nggak, saat film dimulai lagu Garuda di Dadaku versi Netral mengalun keras membahana membangkitkan jiwa yang mati. Beuh…lebay. Yah, pokoknya adegan dibuka dengan mimpi Bayu (Emir Mahira) yang sedang bermain sepakbola dengan ayahnya. Mirip – mirip pembuka di Harry Potter 4. Bayu terbangun kemudian bergegas ke lapangan kecil di kampungnya untuk berlatih sepakbola. Tentu hal ini dilakukan bayu secara diam – diam tanpa sepengetahuan sang kakek yang sangat melarang keras Bayu bermain sepakbola.

“Nggak elit,” jelas Kakeknya.

Kakek bayu sangat membenci Sepakbola sejak ayah bayu yang juga pemain sepakbola mendapat kecelakaan saat bertanding namun tidak mendapat perhatian yang layak dari PSSI. Kemudian ayahBayu cacat dan akhirnya meninggal sebagai supir taksi.

Film ini sangat menghibur dan sekaligus mendidik. Di film ini akan kita dapatkan besarnya kasih sayang dan Cinta dari seorang kakek yang menginginkan hal terbaik untuk cucunya. Tentang persahabatan, dimana Heri sahabat Bayu yang juga tergila – gila dengan bola namun memiliki keterbatasan fisik begitu menyemangati Bayu meraih mimpinya. Tentang , cinta dan kasih sayang anak sekecil Bayu dimana selain mempunyai impian Bayu juga tak ingin mengecewakan kakeknya. Tentang Mimpi, sebagai salah satu kunci untuk menaklukkan dunia.

Mimpi Bayu begitu juga mimpi Heri hamper terwujud ketika seorang pelatih SSB melihat bakat Bayu. Bayu pun berusaha mendapatkan beasiswa untuk berlatih di SSI Arsenal sehingga bisa memperoleh tiket untuk menjadi wakil Indonesia di pertandingan Internasional. Usaha Bayu tak hanya bagaimana berlatih keras disela keterbatasan mencari lapangan berlatih yang memang sudah susah sekali dicari di Jakarta, namun juga bagaiman mengatur waktu dengan berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang disiapkan kakeknya demi masa depan Bayu.

Disinilah aku banyak belajar pada Bayu. Bayu punya mimpi dan tekad yang luar biasa namun selalu berusaha agar Orang yang mencintainya seperti kakek dan ibunya tidak merasa dikecewakan.

Konflik yang manis, sederhana, namun mengena pas dibumbui dengan kelucuan – kelucuan yang tak berlebihan menjadikan Film ini tontonan yang sangat layak bagi keluarga. Karenanya, ketika aku lihat banyak orang tua membawa anaknya menonton film ini aku ikut merasa bangga ternyata masih ada tontonan berkelas yang mampu menjadi inspirasi anak – anak Indonesia.
Jelas untuk sebuah motivasi pembangkit semangat aku mengedepankan film ini ketimbang KCB. Dan kalau melihat segmen, Garuda di Dadaku memang memiliki segmen penonton yang lebih luas.

Untuk soundtrack, yah…suara Ashila Icil 1 di lagu Rolling membuatku ingat kembali pada wajah manis anak kecil ini dan juga teman – temannya di Icil 1 seperti Zahra, Sivia, Osa, dan Angel. Kapan – kapan pengen Obiet juga ngisi soundtrack di sebuah film keluarga. Kapan ya Biet?

Mengenai Nasionalisme di film ini mungkin telah banyak yang membahasnya. Yang pasti selain lagunya Netral tadi, semangat Bayu untuk mengharumkan nama Indonesia menjadi pelecut tersendiri buat kecintaanku pada negeri ini. Kalu bukan kita yang peduli, siapa lagi….?

Post a Comment

0 Comments