Merantau - Film Terbaik Tahun Ini!


Wah..lumayan lama aku nggak ngereview movie. Terakhir Garuda di Dadaku. Padahal setelahnya aku nonton banyak film. Ada August Rush, Harry Potter & Half Blood Prince, The Last House on the left, Merah Putih, dan terakhir Merantau.

Tadinya aku mo ngereview Harry Potter. cuman, karena sedikit kecewa dengan ceritanya di film yang dipotong banyak & nggak seseru novelnya jadi agak malas. Trus muncul niat untuk mereview Merah Putih, tapi masih penasaran sama Merantau yang trailernya keren abis. Akhirnya, setelah ngisi acara di Metropolis Town Square Tangerang aku mengajak Agus nonton bareng Merantau.

Syukurlah jam tayangnya masih setengah 9. Jadi masih bisa tarawih di Musholla Cinta 165. Ba’da tarawih sekitar 15 menit sebelum tayang aku dan Agus segera naik ke lantai 2 dan menuju studio 1 dimana Merantau akan diputar. Yah..masih sempat juga tilawah 4 halaman sampe pintu studio dibuka.

Film ini udah lumayan lama bercokol. Aku kurang tahu kapan premiernya, yang pasti duluan Merantau dibandingkan Merah Putih. Dan sampe review ini aku tulis, Giant Banner Merantau masih tergantung di Space Promosi 21 Metropolis.

Oke, seperti aku udah bilang aku sangat terkesan dengan trailer Merantau yang aku liat di blognya Mas Utara. Pertama liat aku langsung terpikat sama action film Indonesia yang luar biasa. Keren…. Weisss mulai lebay neh. Padahal belom nonton ya. Hehehe

Aku udah denger selentingan komentar temen – temen deketku soal film ini. Kebanyakan dari mereka yang melankolis seperti Zainal agak kurang suka dengan endingnya yang boleh dibilang Sad Ending. Tapi aku, …… paling suka. Lagian agak bosen liat film yang happy ending.

Seperti trailer, film dibuka dengan narasi tentang tradisi minangkabau yang mengharuskan anak laki – lakinya untuk merantau. Dan Yuda (Iko Uwais – pemeran utama) anak bungsu dari 2 bersaudara terikat dengan tradisi tersebut harus diharuskan merantau ke Kota dengan sejuta kesemrawutan, Jakarta meninggalkan Ibu dan Kakaknya.

Yuda adalah pesilat handal dari Perguruan Silat Harimau Minang. Dalam perjalanan Yuda berkenalan dengan seorang pria yang memberikan banyak pengalaman tentang perantau. Pria ini (aku lupa namanya – hehehe) juga seorang pesilat. Sesampai di Jakarta, Yuda mencari alamat tujuan. Tapi sayang rumah yang dituju sedang dibongkar dan tak tahu pemiliknya pindah kemana. Akhirnya Yuda harus tidur di dalam gorong – gorong di sebuah proyek bangunan.

Dari sini saja, aku makin terbius oleh ceritanya. Gimana nggak, aku juga seorang perantauan. Dan pertama kali menginjakkan kaki di pulau jawa adalah di Pelabuhan Cilegon yang akupun tak tahu itu ada di sebelah mananya Tangerang ataupun Jakarta. Aku kira akan dijemput oleh seseoarang yang kutuju keberadaannya. Tapi ternyata nggak. Sore hingga pukul 8 malam aku sedikit terkatung – katung di cilegon. Malu bertanya emang nggak bakalan bikin aku sampe di Tangerang. Alhamdulillah berbekal tekad baja (heueleuh – lebay deui) akhirnya aku bisa sampe di Tangerang dan di jemput di Bitung, daerah dengan sejuta keanehan (heheh – banyak bencong mangkal).
Aku bersyukur nggak harus mengalami pengalaman seperti Yuda. Apalagi sampe tidur di gorong – gorong tanpa jelas tujuan selanjutnya.

Di Jakarta, Yuda terpertemukan dengan Astri (Sisca Jessica) dan Adit (adiknya Astri). Astri terjebak Illegal Trafficking dan Yuda harus yang terlanjur terlibat karena sempat menolong Astri sebelumnya. Disinilah ceritanya mulai seru. Apalagi, action nya sangat berasa. Aku jadi kagum sendiri sama Olah Raga asli Indonesia ini, Silat (mudah – mudahan nggak diakuin sama Malingsia).

Efek yang luar biasa, dan berasa film ini nggak seperti buatan Indonesia (ternyata emang – sutradaranya dari luar). Berantemnya keren banget sampe aku sempet kepikiran kalo si Yuda jadi Jackie Chan nya Indonesia. Tapi liat berantemnya yang serius, kayaknya jadi malah mirip Jet Lee.

Terus selain cerita dan efek berantem yang luar biasa, apa lagi yang bisa kita ambil dari film ini?

Kasih Sayang. Ya, kasih sayang antara Kakak dan Adik. Aku iri melihat keakraban Yuda dan udanya, Yayan. Kendati becanda kemudian tak jarang sampai berantem, Yuda dan Yayan jadi profile kakak – adik yang baik. Potret kasih sayang berikutnya adalah antara Astri dan Adit. Mereka yang ditinggal orang tuanya, tapi tetap berkasih sayang. Adit bahkan jadi alasan bagi Astri untuk terus menjalani hidup, melakukan apapun untuk adiknya itu. Adit juga nggak segan membela kakaknya jikalau diganggu preman. Karenanya, Adit ingin seperti Yuda bisa silat supaya dapat menjaga Astri.

Satu lagi, potret kasih sayang. Kakak adik Ratger & Luc (Peran antagonis bos illegal trafficking). Ratger yang sedikit keras didampingi kakaknya Luc yang sabar dan penuh perhitungan. Luc senantiasa coba meredam kemarahan Ratger. Ketika Luc mati saat berkelahi dengan Yuda, Ratger bahkan dengan sekuat tenaga membalas kematian kakaknya.

Sobat MPers yang belum menonton, aku sarankan untuk menonton film ini ketimbang menghabiskan uangnya untuk melihat Film – film misteri yang ancur.

Buat KCB aku kasih 4 dari 5
Buat Merah Putih aku kasih 3 dari 5

Tadinya buat Merantau aku mo kasih 5 dari 5. Tapi melihat endingnya yang luar biasa dan sedikit menyayat, aku kasih 6. *_^

Post a Comment

2 Comments

  1. salam kenal :D

    Lumayan untuk sebuah film aksi INdonesia. Tapi masih harus banyak belajar.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda