KCB 2 : Azzam Mencari Cinta




Akhirnya setelah menunggu sekian lama sejak 17 September lalu, aku baru kesampean nonton KCB 2 tadi malam di Gading Serpong – Tangerang. Maklum di Pangkalpinang belum ada bioskop 21. Jadinya harus menunggu ketika sudah balik ke Tangerang lagi.

Khairul Azzam buat ku jadi sosok kakak yang pantas jadi panutan. Gimana enggak? Lulusan Mesir, Entrepreneur muda, Gigih, disayang serta sangat sayang pada keluarga.

Nah, setelah KCB 1 yang tayang 3 bulan lalu, akhirnya Sinemart Pictures menepati janjinya untuk menayangkan lanjutannya di bulan September bertepatan dengan libur lebaran. Dan aku baru kebagian nonton disaat kursi – kursi di 21 nggak penuh dan nggak perlu berdesakan untuk membeli tiketnya.

Belum apa – apa film ini sudah dibuka dengan kejadian yang sangat mengharukan. Mungkin ibu – ibu di sebelahku sampai menitikkan air mata. Malam penganugerahan penulis muda yang dihadiri oleh Taufik Ismail dan Mbak Helvy (deuh…maen film juga Mba) jadi detik – detik mengharukan ketika Ayatul Husna memberikan sepatah dua patah kata sebagai ungkapan terima kasih atas Trophy yang dia terima. Dan lewat sebuat puisi, Azzam yang mendengarnya ikut berkaca – kaca terharu sekaligus bangga dengan adiknya yang sudah menjadi sarjana ini.

Kau mencintaiku
Seperti bumi
Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Menanggung beban derita
Tak pernah lelah
Menghisap luka

Kau mencintaiku

Seperti matahari Mencintai titah Tuhannya
Tak pernah lelah
Membagi cerah cahaya
Tak pernah lelah
Menghangatkan jiwa


Subhanallah… Luar Biasa Indah.


Mengharukan lagi ketika Azzam tiba di rumahnya. Bu’e……. wah, benar – benar berasa pulang kampong. Jadi inget ketika mudik. Walaupun udah hampir tengah malam, waktu aku tiba jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, Ibu masih menyambut aku dan ayah yang menjemputku dari pelabuhan dengan semangkuk lempah kuning hangat, khas Bangka.

Melepas kerinduan setelah lebih dari 9 tahun tak bertemu. Aku saja yang setiap tahun masih berkesempatan mudik masih merasakan rindu yang sangat.



Cerita mengalir seperti di Novel dan Azzam memulai bisnisnya dengan membuka jasa ekspedisi titipan barang dari Mesir. Meskipun kemudian harus dihentikan karena Ibunya tak tahan dengan gunjingan tetangga yang mengatakan Azzam pengangguran. Yah, pelajarannya buat sobat semua…. Selain jangan suka menggunjing alias ghibah, buat yang merasa digunjing nyantai aja. Toh, apa yang digunjingkan kan tak sama dengan kondisi yang sebenarnya.

Beralihlah ke bisnis Bakso Cinta yang mengalami kemajuan pesat sehingga Azzam bisa membeli sebuah mobil carry sederhana, mungkin masih jauh dibandingkan Mercy nya Anna atau Furqon. Hanya saja di film ini tak diceritakan tentang jatuh bangun bisnis Bakso Cinta (dilanda Fitnah dan usaha Azzam untuk menepis semuanya).



Sekali lagi, ceritanya mirip meski nggak sama persis. Dan menurutku inti dari KCB 2 ini adalah perjuangan Azzam mencari Cinta. Dimulai dengan Rina teman Husna yang tak disetujui Ibunya Azzam, Mila yang manis tapi Ibunya penganut Khurafat, Anaknya Pak Jazuli yang keburu nikah, Adik temennya Kang Paimo yang IDT, sampe akhirnya bertemu Asmirandah yang manis sekali menggunakan Jilbab seorang dokter dari Kudus, dr.Vivi.

Cincin sudah dikenakan namun akhirnya harus dikembalikan karena Vivi ibarat Siti Nurbaya yang tak mampu menolak keinginan orang tuanya yang tak sabar menunggu kesembuhan Azzam akibat kecelakaan menjelang hari pernikahan mereka.

Berapa kali coba si Azzam gagal merengkuh Cinta? 5 Kali. Coba seandainya Azzam berhenti di langkah yang kelima? Apakah dia akan mendapatkan cinta sejatinya?

Nah, sobat…. Seperti Edison yang menemukan Bohlam. Perjuangan Azzam ini bisa menjadi inspirasi. Tak hanya dalam mencarai jodoh, tapi juga dalam hal lain seperti berbisnis dan meraih cita – cita. Ketahuilah bahwa, kegagalan hanya akan mendekatkan kita kepada kesuksesan. Seperti Azzam yang akhirnya menikah dengan gadis yang sebenernya diimpikannya, Anna Althafunnisa.

Ahh….romantisnya.

Semua sudah pada tahu kalau Anna kemudian di ceraikan Furqon atas permintaannya sendiri. Di akhir film ada scene yang ditambahkan yakni saat Furqon berniat kembali kepada Anna, dia dipertemukan dengan Eliana yang saat itu sudah menggunakan kerudung. Sedangkan Husna, yang pasti dilamar oleh si Dude yang akhirnya maen juga di KCB meski cuman sebentar.

Jujur, karakter yang aku suka adalah Lia yang ceplas ceplos. Selain itu juga anaknya cantik, wah… siapa siy yang meranin Lia? Meskipun karakternya nggak pas buatku. Hehehe… (ge-er mode on).

Trus ada Kang Suby Alveoli yang jadi kakaknya Mila. Aduh kang…. Besok – besok dirimu maen film lagi deh. Aktingnya udah lumayan dibandingkan Manohara yang akhirnya “dipecat” sama sinemart. Qkqkqkqk

Satu lagi, Ustadz yang sering jadi juri di Festival Nasyid (aku lupa namanya) juga ikut maen sebagai sopirnya Eliana. Nah lho… giliranku kapan? Tunggu aja yah

Film KCB ini sangat aku rekomendasikan setelah MERANTAU. Pak Mamang memang sutradara yang hebat. Aku tak menemukan adegan – adegan yang nggak “layak”. Bahkan malam pengantin pun dibuat dengan penuh kehati – hatian. Adegan ijab qabul pernikahan yang sering ada di sinetron2 nggak perlu di buat seolah – olah memang menikah dengan mengeraskan suara Ijab Qabul tersebut. Kan pernikahan bukan permainan (Gita Gutawa neh).

Di Film ini aku tak menemukan mereka yang memang berjilbab, melepas jilbabnya pun walau barang sebentar. Bahkan tidak menyentuh lawan jenis yang non muhrim pun dicontohkan dalam film ini. Pernah lihat tangan Oki Setiana Dewi dipegang Odi ato Andi ?
Mantaf….



Nggak ada gading yang nggak retak (Hoalah kayak nulis kata pengantar) alias semuanya pasti ada kekurangannya. Tapi aku malas menceritakan kekurangan dari apa – apa yang aku anggap bagus. Sekali bagus, tetap bagus. Dan buat yang belum menonton, sepertinya harus menyempatkan untuk nonton film ini. Kalopun nggak ada bioskop ato anti ke bioskop, bisa nunggu VCD Aslinya yang Insya Allah awal tahun nanti akan beredar di toko – toko kaset terdekat.

Trus, ada lagi yang berkaitan dengan sebuah hadits yang pernah aku posting di note Fesbukku. Bahwa Berandai – andai malah akan membuka pintu masuknya Syaitan. Itu yang diingatkan Kiai Lutfi saat istrinya berandai – andai pengen punya mantu seorang Abdullah Khairul Azzam.

Post a Comment

0 Comments