Emak Ingin Naik Haji (Cinta Hingga Tanah Suci)


Udah ada yang request untuk nulis review film. Emang dua minggu ini aku nyempetin nonton 2 Film, The Final Destination dan Emak Ingin Naik haji, belum termasuk 2012 yang lagi hot. Tadi malam aku berencana menonton film 2012 bareng temen – temen di BSD Plaza XXI yang harganya lumayan miring kalo dibandingkan dengan Bioskop laennya di Tangerang.

Tapi semuanya gagal, karena kemaren sore pulang kuliah temen – temen kuliah malah ngajak maen Futsal. Karena emang udah lama nggak maen, aku mutusin untuk ikut ke Lapangan Futsal deket Villa Dago. Karena cape banget akhirnya rencana nonton film Kiamat yang katanya bagus itu, dengan sengaja digagalkan.

Oea, sebenernya sih aku udah ngedonlot film ini. Tapi sayang pas mau diputer, malah ada Passwordnya.

Kesempatan kali ini aku pengen berbagi cerita tentang film penggugah jiwa, yang baru release Kamis, 12 November kemaren. Nggak lain dan nggak bukan, Emak Ingin Naik Haji (EINH).

Trailernya udah aku suguhkan bulan kemaren di Multiplyku. Dan sejak lihat trailernya itu aku sudah berniat untuk menyisihkan uangku buat beli tiket 21. Pagi kamis, Zenal temenku udah buka web 21 Cineplex dan betapa kecewanya dia saat tahu masih Coming Soon. Aku jelaskan ke Zenal kalo webnya itu update jam 7 pagi, jadi wajar kalo subuh gitu jadwalnya masih yang lama.


Sesampai di kantor segera aku buka webnya lagi untuk mengetahui diputar dimana saja film tersebut. Tujuan utamaku adalah XXI Serpong yang layarnya supergede dan sound systemnya sangat bagus. Dan aku ikutan kecewa gara – gara XXI Serpong nggak memutar EINH.

Tujuan selanjutnya Lippo Karawaci dan Metrpolis. Ah, ternyata di dua tempat tersebut EINH sudah diputar. Begitu juga dengan 21 WTC Serpong. Berhubung Metropolis adalah yang paling mungkin dijangkau secara cepat, aku memutuskan menonton disitu bersama Zenal dan Janu.

Dari Kantor jam 4 Teng-Go, kami berburu film seperti yang kami lakukan saat Premire KCB dan Harry Potter and Half Blood Prince. Aku memacu laju kendaraan… tapi tetap saja sampai di Metropolis Town Square (Metos) sudah maghrib. Bergegas sholat diGerai DT, aku dan Znal akhirnya meluncur ke 21 dan bertemu Janu.

Nyampe 21 si satpam dengan seenaknya meriksain tas kita atu  atu ampe dibuka segala dalem2nya. Beda banget sama XXI Serpong ato 21 Lippo. Untungnya kita memang nggak bawa makanan sama sekali.

*Tok..tok..kapan review filmnya neh???

Hehehe, iya ya. Oke, begini ceritanya :
"Sekarang uang emak ada lima juta, sudah nabung lima tahun. Kalau sekarang naik haji, ongkosnya tiga puluh juta, berapa tahun lagi ya, Zein?"

Itulah pertanyaan ringan yang dilontarkan emak (Aty Kanser) kepada anaknya Zein (Reza Rahardian) satu scene pembuka setelah menampilkan suasana kampung nelayan di penggiran Jakarta. Emak yang tinggal sederhana bahkan mungkin dibawah garis kemiskinan ini begitu berhasrat untuk naek haji. Uang hasil penjualan kue – kuenya selalu disisihkan untuk mendukung hasratnya tersebut. Begitu juga dengan hasil penjualan lukisan Zein, anak bungsunya.

Zein sudah bercerai dengan Isterinya. Menikah lagi dengan seorang pegawai karena latar belakang ekonmi. Ato… bahasa kasarnya ni isteri matre. Ninggalin Zein demi harta. Namun ternyata setelah menikah dengan pegawai itu hidupnya nggak juga baekan. Kesian…

Lima jengkal dari rumahnya Emak, tinggallah keluarga Haji Sa’un (Didi Petet) yang kaya raya. Dan tahun ini bapak yang sudah haji beberapa kali ini akan berangkat umroh bareng Dude Herlino. Dan emak tetep kecipratan pesanan kuenya.

"Sekarang uang emak ada lima juta, sudah nabung lima tahun. Kalau sekarang naik haji, ongkosnya tiga puluh juta, berapa tahun lagi ya, Zein? Sekarang umur emak 61. Jadi emak musti nabung 25 tahun lagi. Kira – kira masih ada umur ngga ya?”

Di tempat terpisah seorang pengusaha begitu berambisi menjadi Walikota. Untuk memuluskannya dia membutuhkan title Haji di depan namanya mengingat warga di daerah pemilihannya akan  lebih tertarik karena mayoritas muslim.

3 cerita berbeda namun di nanti akan berkaitan. Serta 3 motivasi berbeda ke Tanah Suci. Keluarga saudagar yang melaksanakan haji sebagai rutinitas, emak yang sungguh rindu Rumah Allah, dan si pengusaha yang cuma butuh gelar.

Zein begitu sayang dengan emaknya. Terlebih sejak abang dan ayahnya meninggal di laut. Moral ini yang bisa aku petik pertama, tentang begitu besarnya kasih sayang Ibu ke Anak, atau sebaliknya Anak ke Ibu. Benar – benar jadi ingat kampung halaman.

Hasrat emak yang luar biasa membuat Zein giat bekerja.

Konflik mulai ada ketika Aqsa, anaknya Zein, harus dioperasi karena hernianya sudah akut. Menurut isterinya, biaya yang dibutuhkan sebesar 5juta rupiah.  Dan itu menjadi tanggung jawab Zein sebagai ayah Aqsa.

Zein hampir putus asa. Meskipun Emak bermaksud merelakan uang yang sudah ditabungnya di Bank yang notabene buat ongkos naik haji, Zein tak rela kalau uang yang dikumpulkan Ibunya selama kurang lebih 5 tahun tersebut harus terpakai. Berbagai cara Zein tempuh, berjualan lukisan di malam hari hingga hujan – hujanan dan lukisannya luntur, hingga mencoba ke rentenir. Tapi usahanya nol.

Benar kata ulama… Setan itu selalu mencoba mencari celah. Malam hari setelah emak tertidur pulas habis mengaji, Zein menyelinap keluar dan menuju rumah Haji Sa’un. Koper berisi uang ratusan juta pun telah berada di tangannya. Namun saat akan keluar kamar, Zein tertegun melihat Al-Qur’an yang tergelatak di atas kasur habis dibaca oleh Haji Sa’un. Badannya menggigil seketika… hingga akhirnya dia menaruh kembali koper tersebut dan warga sekampung mengejarnya.

Allah masih ngasih kesempatan untuk Zein membahagiakan emaknya sehingga warga kampung tak berhasil mengejarnya.

Kontras memang kehidupan emak , Haji Sa’un, dan Pak Joko yang tukang selingkuh. Di lain kesempatan, Zein menemani isteri Haji Sa’un dan keluarganya berbelanja ke supermarket. Belanja yang hampir 4juta itu ternyata memberikan kesempatan untuk pelanggannya mengisi banyak kupon undian Naik Haji. Isteri Haji Sa’un yang kaya membuang kupon2 tersebut ke tempat sampah. Zein memungutnya dan mengisinya untuk berharap menang undian.

Berbicara tentang uang 5 juta emak, akhirnya terpakai juga untuk pengobatan Aqsa. Dan emak benar – benar rela meskipun hatinya sudah jauh di Mekkah sana.
Hari yang ditunggu pun tiba. Tak disangka salah satu kupon undian yang diisi Zein menang. Bahagia luar biasa,
Zein segera sujud syukur karena ini artinya Emak segera naik haji. Zein berlari ke rumah namun tak menemukan emaknya. Zein terus berlari… berlari melampiaskan kegembiraannya.

Dan, Braaak…..

Zein masuk rumah sakit, kupon untuk bukti kemenangannya melayang tertiup angin dan terbawa arus sungai entah kemana. Inilah bukti bahwa, kalau memang bukan hak kita Allah pasti akan mengambilnya.


Zein Cacat dan keputus asaan kembali menghampirinya. Namun emak yang luar biasa, senantiasa menyemangati Zein dengan semangat dahsyatnya yang besar sebesar hasratnya untuk bertemu Ka’bah. Pak Joko yang menabrak Zein meskipun harus kehilangan isterinya dalam kecelakaan tersebut tetap bertanggung jawab dalam pengobatan Zein hingga pulih.

Dan beberapa bulan kemudian…. Keikhlasan emak terlebih saat uang yang ditabungnya lima tahun terpakai untuk pengobatan cucunya, dibalas Allah. Dan benar, Allah akan selalu menjawab doa – doa kita. Meskipun tidak sekarang, karena Dia yang maha Tahu apa dan kapan yang terbaik buat kita.

Emak & Zein akhirnya menyambut panggilan Allah menuju Rumahnya… Baitullah.

Maaf, aku nggak bisa menceritakan bagaimana kemudian Emak bisa naik haji karena semuanya bisa temen – temen dapet dengan menonton film ini di Bioskop kesayangan kalian. Dengan alasan aku sedang dalam masa promosi film ini. Makanya yang belum nonton, segera nonton…. Sedangkan buat temen – temenku yang kebetulan di tempat kalian nggak ada 21, bisa ke Gramedia untuk memborong buku kumpulan cerpen Asma Nadia “Emak Ingin Naik Haji” ini. Karena dengan membeli royalty buku tersebut sepenuhnya diinfakkan untuk mereka – mereka yang berkeninginan naik haji namun masih terkendala biaya, seperti Emak.


Begitu banyak yang menangis terharu saat aku menonton film ini. Apalagi mba di sebelahku pas keluar studio matanya sampe bengkak.

"Mak, kita ke Mekkah naek kapal aja yuk," ajak Zein di tepi pantai menatap luas lautan sebagai bagian dari kebesaranNya.
"Mungkin raga emak nggak mampu menyebrangi lautan yang begitu luas. Tapi emak yakin, Allah pasti tau."
"Hati emak udah lama ada disitu... udah lama ada disitu......."


Luar Biasa!!
Ahad, 15 Nov ‘09
Bang Said

Post a Comment

0 Comments