Happy Mothers Day....Happy Birthday, Mom!

Oktober 1997

Siang ini pelajaran seni musik sungguh mengasyikkan. Alhamdulillah, setelah bermetamorfosis dari pemain recorder kemudian pianika, akhirnya aku terpilih sebagai pengiring di posisi keyboard. Senang bukan main. Ini sebuah kemajuan buatku, terlebih dalam kondisi keterbatasan karena ayah dan emak nggak akan pernah setuju dengan hobiku bermusik.

Teng –teng—teng

Bel di sekolahku berbunyi tiga kali. Pertanda bahwa jam belajar di sekolah usai. Pukul 13.30 WIB semua murid SMP N 1 koba berhamburan keluar kelas. Setelah berdoa, teman – teman sekelasku ikut tumpah ruah menyerbu parkiran sepeda.

Ya, saat itu punya sepeda untuk anak SMP di kampungku sudah menjadi barang sedikit mewah. Ada yang mencoba mengendarai motor pun pasti lokasi rumahnya memang jauh. Dan yang pasti, sepeda motornya nggak akan bisa masuk sekolah karena peraturan di kotaku yang tidak membolehkan pelajar SMP membawa sepeda motor ke sekolah.

Tentu kondisi ini berbeda dengan sekarang. Tahun 2007 atau 10 tahun kemudian semuanya menjadi berbeda. Anak SD pun ada yang mengendarai sepeda motor ke sekolah. Bahkan satu Rumah bisa punya 2 sampai 3 sepeda motor tergantung jumlah anak. Ditambah, untuk memperoleh sepeda motor sekarang nggak sesulit saat dulu. Dengan uang 1 juta saja sepeda motor merek terbaru sudah bisa dipakai.

Kembali padaku. Aku punya sepeda mini waktu itu. Hanya saja, karena engkol sepedanya sering lepas jadi jarang sekali di pakai. Kondisi ekonomi keluargaku juga nggak terlalu mewah, jadinya hanya ada 1 sepeda motor milik ayah terparkir di rumah.

Karenanya aku pulang ke rumah menumpang bis yang mengantar pekerja – pekerja penggali timah PT Koba Tin. Hari ini juga.

Aku tiba di rumah pukul 14.00. tak ada yang menyambut karena adikku yang nomor dua juga pasti masih di sekolah atau di tempat lesnya. Sedangkan nomor tiga sedang berada di TPA dekat masjid Jami’.

“assalamu’alaikum,”




“alaikumsalam.” Terdengar suara sahutan dari arah dapur.

Aku bergegas menuju dapur. Kulihat emak sedang membersihkan kompor minyak yang sudah usang. Beliau terduduk dan sedikit membungkuk.

“Udah pulang Bang?” tanya emak.

“Iya mak. Ayah kemana?” aku balik bertanya.

“Ayah belum pulang.”

Belum pulang? Aku sedikit heran mengingat biasanya ayah sudah berada dirumah jam satu siang. Kegiatan belajar mengajar di pesatren tempat ayah bekerja berakhir lebih cepat dari sekolah lainnya.

“Bang, nanti ke rumah bu Bidan ya setelah sholat dan makan,” pinta emak saat aku keluar dari kamar mandi.

“iya mak.”

Bergegas kuselesaikan shalat dzuhur dan makan siangku. Seperti yang diminta, aku langsung berangkat menuju rumah bu Bidan yang ada di dekat masjid jami’.

Emak sedang hamil tua. Ya, sebentar lagi adikku akan lahir. Mungkin saat ini sudah waktunya karena ibu menyuruhku ke rumah bu Bidan.

Setengah jam kemudian aku kembali ke rumah bersam bu Bidan. Kulihat bu Bidan tergopoh – gopoh menghampiri emak.

“Masya Allah. Ibu pendarahan,” Bu Bidan terpekik lemah.

Aku kaget. Pendarahan?

“Eki panggilin ayah ya. Emakmu harus segera dibawa ke rumah sakit,” pinta bu Bidan padaku.
Emak? Apa yang terjadi?

Aku terus bertanya – tanya dalam hati. Sepertinya ini serius. Aku berlari menuju telepon umum.

Setelah memasukkan dua keping uang seratus rupiah aku memencet nomor pesantren  tempat ayahkun mengajajar. Bunyi tuut lima kali akhirnya telepon diangkat.

“Assalamu’alaikum.”

“alaikumsalam,” jawab suara perempuan di seberang.

“Pak Bran nya ada mba?”

“Ada.”

“Boleh dipanggilkan. Ini dari Eki anaknya.”

“Tunggu sebentar de Eki.”

Dua menit lebih aku menunggu hingga harus menambah dua keping lagi logam seratus rupiah.

“Ada apa Bang?” akhirnya terdengar suara ayah di seberang.

“Emak yah. Ada bu Bidan di rumah. Katanya harus dibawa ke rumah sakit,” jawabku tergugup.

“Masya Allah!”

Hanya itu suara yang terdengar di telepon. Setelah itu yang aku tahu ayah langsung bergegas pulang ke rumah.

Benar saja, 15 menit kemudian ayah tiba di rumah. Oleh Bidan, beliau diminta mencarikan ambulance. Alhamdulillah, karena ayah banyak kenalan di PT Koba Tin, ambulance perusahaan tambang timah tersebut bersedia mengantarkan Emak ke rumah sakit.

Aku menangis ketika melihat emak diangkat melalui tandu. Oleh ayah, aku dan adikku yang SD dititipkan kepada Bi As, tetangga sebelah rumah. Sedangkan dua adikku lainnya dititipkan di rumah bibi di kampung sebelah. Aku masih menangis melihat Emak terbaring lemah.

Dari Bu Bidan aku tahu kalau Emak mengalami pendarahan hebat. Karenanya butuh pertolongan dengan peralatan yang lebih baik di Rumah sakit Umum di Pangkalpinang mengingat puskesmas di kampungku belum memiliknya.

Aku mencium tangan emak.

“Yang nurut ya Bang. Jangan Nakal. Jaga adek – adek. Jangan lupa sholat dan doa,” pesan Emak sebelum dibawa masuk ke dalam ambulance.

Aku masih menangis saat ayah memelukku dan adikku.

Sirine ambulance meraung beriringan dengan berkumandangnya adzan Isya dari masjid Jami’. Aku langsung bergegas menuju masjid. Di akhir sholat isya, aku berdoa semoga Emak diberi keselamatan, begitu juga dengan adikku yang akan lahir.

Sebelum tidur aku kembali ingat pada Emak. Padahal siangnya, Ibu Yekti, guru seni musikku mengingatkan kasih ibu melalui lagu yang sedang kami pelajari. “Mother How Are You Today..”

Jangan ambil emakku ya Allah!—aku pun akhirnya tertidur di sela uraian air mata yang terus menetes.

2 oktober 1997


Pagi hari, aku belum mendapatkan kabar dari ayah atau pun ambulance yang membawa Emak.

Setelah puas menumpahkan tangis tadi malam, aku sedikit bisa segar pagi ini dan siap – siap berangkat sekolah. Pukul 06.00 WIB saat sedang sarapan nasi goreng bikinan Bi As, aku mendengar deru motor dari halaman depan. Bergegas aku lari dan membukakan pintu.
Ada apa ini? Yang datang adik ayahku dengan wajah sedih. Jangan – jangan...

Akhirnya tangisku tumpah lagi. Aku ingin berteriak sekeras – kerasnya. Meraung, berguling.
Emaaaaaaak!

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un.

Pamanku membawa kabar duka. Emak berikut calon adikku tak bisa diselamatkan. Terlalu banyak darah yang hilang. Sedangkan ayah sudah berusaha mencari tambahan darah untuk emak. Tapi tak berhasil.

Itu yang kudapat dari pamanku.

Kabar meninggalnya emak langsung tersiar ke seluruh warga disekitar rumahku. Tok Husen, marbot masjid pun mengumumkan meninggalnya emak melalui pengeras suara di masjid jami. Tak lama, rumah kami sudah dipenuhi oleh pelayat.

Aku masih sedih, namun tak menangis lagi. Sedangkan adikku yang SD kulihat masih menangis dipelukan Bi As. Bibi ku datang membawa dua adikku yang masih kecil. Wajahnya sembab. Sedangkan dua adik ku yang kecil itu masih becanda satu sama lain. Tak ada kesedihan pada wajah mereka  karena mereka belum mengerti. Masih terlalu kecil buat mereka tahu Emak pergi. Pergi untuk selama – lamanya.

Suara sirine ambulance berhenti tepat di rumahku. Saat pintunya terbuka, kulihat ayah turun dan langsung dipeluk beberapa rekannya sesama guru di pesantren. Aku dan adikku yang SD menghambur ke arah ayah. Kemudian kami bertiga berpelukan. Menangis...

Ya...hari ini aku kehilangan Ibu..kehilangan orang yang sangat aku cintai. Sedangkan ayah kehilangan istri, kehilangan permaisuri hati, kehilangan bidadarinya.

Setelah dimandikan. Jenazah emak siap di kafani. Aku mencium wajahnya untuk terakhir kali. Ada air mata di ujung kelopaknya. Aku peluk jenazah itu sambil tersedu.

Emak....selamat jalan.

Prosesi pemakaman berjalan lancar. TPU dipadati pelayat banyak sekali. Entah dari mana mereka datang. Jalanan pun macet saat jenazah emak dibawa ke pemakaman.

*          *          *

Lubang itu tak terlalu dalam. Ada 3 gumpalan tanah liat disana. Ya, disanalah tempat peristirahatan emak yang terakhir. Begitu juga dengan kita nantinya. Aku kembali menangis saat  tanah dibumbumkan kedalam lubang itu. Emak sudah dibaringkan di dalamnya.
Emak. Emak pergi sebelum aku dapat berbuat banyak untuknya. Sebelum aku sempat membalas kebaikan dan pengorbanannya.

*          *          *

10 tahun yang lalu. Yah, aku kembali teringat masa 10 tahun lalu. Menjelang esok hari Ibu, aku mengingat kepergian Emak.

Allah...begitu sayang dia pada emak sehingga memanggilnya lebih dahulu. Walaupun tahun ini aku tak bisa berziarah saat ulang tahunnya, tapi aku selalu berdoa yang terbaik untuk Emak. Begitu besar pengorbanannya. Terlebih saat menghadirkan anaknya ke dunia, Emak harus berjuang melawan maut.

Semoga Allah menerima Emak dan menjadikannya bidadari di surga.

22 Desember, tak hanya aku peringati sebagai hari Ibu. Tapi juga hari lahirnya Emak.

Happy Mothers Day....Happy Birthday, Mom!

22 Desember 2009 (Repost from my Blog @ satria248.multiply.com)

Post a Comment

2 Comments

  1. duh..
    saya pengen nangis..
    walaupun ibu saya masuh di samping saya, rasanya saya terlalu tidak memperdulikannya.. selalu melawan, dan banyak dosa yang telah saya perbuat.
    betapa salahnya saya..
    seharusnya saya harus menyayanginya, saya gak mau nyesal di kemudian hari, saya harus minta maap..
    harus....

    ReplyDelete
  2. @Yahya,
    Makasih ya....
    Mumpung Ibu masih disamping, Yahya harus berbuat banyak untuk orang yang berjuang melawat maut menghadirkan kita ke dunia

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda