Bu Ainun Habibie (Alm) dan Amal Soleh Sosial

Tak ada maksud apa – apa menulis sesuatu tentang Ibu Ainun Habibie untuk yang kedua kalinya. Sebenernya hanya ingin berbagi apa yang disampaikan Ustadz siang tadi. Hari ini, aku kembali ke Astra. Tak lain tak bukan untuk “menyetorkan” kerjaanku ke server mereka.
 
Karena bermaksud langsung pulang sehabis dzhuhur aku ngga ke Masjid Astra seperti biasanya. Hanya shalat di musholla saja. Eh, ternyata sholatnya ngantri lantaran ada tausyiah di Musholla. Entah gelombang yang keberapa aku ikut. Yang pasti Tausyiah sudah separuh jalan. Sholat hampir ke halaman karena bagian depan diisi jama’ah yang khusyu mendengarkan tausyiah dari Ustadz yang belom ku kenal.

Setelah salam kanan kiri, entah karena angin apa, aku putuskan untuk ikut mendengarkan tausyiah ustadz tersebut. Padahal, niatku pulang lebih awal dikarenakan akan ke kampus MAN Insan Cendekia untuk mengambil berkas – berkas daftar ulang buat adikku yang diterima di Madrasah Aliyah terbaik se-Indonesia tersebut [promosi].

Tapi, kajian Ustadz tersebut memang sangat menarik. Buktinya bapak – bapak yang tadinya berjamaah denganku semuanya ikut nimbrung. Jadilah makin merapat jama’ah yang ikut mendengarkan tausyiah.

Ternyata tema kali ini adalah Keluarga Sakinah. Namun berhubung aku udah ikut 2/3 jalan, kajian telah merembet kepada Amal Soleh Sosial. Dan kebetulan sekali Ustadz membahas kegiatan pemakaman almarhumah Ibu Ainun Habibie yang penta’ziahnya luar biasa banyaknya.

Menurut Ustadz, inilah salah satu contoh efek amal soleh sosial. Berbeda dengan pemakaman Ibu Tien beberapa tahun lalu. Penta'ziyah yang datang melayat tentunya dengan kerelaan hati bukan lantaran suaminya sedang berkuasa atas sesuatu.
Amal soleh sosial yang dicontohkan oleh Ibu Ainun patut diteladani. Di Bandung, bu Ainun telah mendirikan Rumah Sakit yang menggratiskan cuci darah bagi yang tidak mampu. Tak hanya itu, di bidang Kesehatan beliau menorehkan prestasi penting dengan perjuangannya untuk pengakuan donor mata. Hingga kemudian, Fatwa menghalalkan donor mata bagi penderita Tuna Netra dikeluarkan. Bentuk eksistensinya saat ini telah berdiri Bank Mata yang berpusat di Rumah Sakit Mata Aini di Kuningan, Jakarta.
Semangat pengabdian dan dedikasi beliau terhadap kesejahteraan rakyat tak sampai disitu. Sobat MPers pasti kenal dengan Yayasan ORBIT (Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orang Tua Bimbing Terpadu). Sudah berjuta anak Indonesia terbantukan pendidikannya oleh beasiswa yang diberikan Yayasan ini.
Terlepas komentar miring orang - orang aneh "Muslimah koq tidak berjilbab", saya hanya bisa menanggapi bahwa untuk hal tersebut ilmu beliau memang sebatas itu seperti yang Ustadz juga sampaikan. Tapi, dengan kapasitas ilmu tersebut, ada banyak hal yang bermanfaat bagi orang banyak yang beliau lakukan. Harusnya kita berkaca, bukan dengan berkomentar miring. Toh, dengan kapasitas ilmu kita sekarang, apa yang telah kita lakukan untuk umat ini?
Wallahu'alam Bisshawwab

Post a Comment

0 Comments