Lebih Gugup dari yang Menikah

Alhamdulillah, akad nikah pagi ini berjalan lancar seperti yang kuharapkan. Yupz, inilah pengalaman pertama aku jadi MC akad nikah. Sebelum – sebelumnya pada acara akad nikah paling aku hanya sebagai pembawa seserahan atau paling banter yang ngisi sholawat yang mengiringi acara sungkeman mempelai pada orang tua mereka.

akad 3
Prosei akad sahabatku, Dhanu (Ilustrasi)

Aku ngga kenal dekat baik dengan mempelai pria atau wanita yang mengundangku hari ini. Awalnya tiga pekan yang lalu saat Kang Hanhan menghubungiku untuk menggantikannya menjadi MC. Yang kudengar saat itu adalah MC di acara Resepsi pernikahan temannya yang akan dilaksanakan di Gedung. Makanya dengan sigap aku mengiyakan tawarannya.

Sepekan berlanjut dari tawaran kang Hanhan tak ada kabar dari pihak yang akan melangsungkan akad nikah. Baru satu pekan berikutnya atau sepekan menjelang hari H calon mempelai wanita menghubungiku. Kaget bukan kepalang. Ternyata aku diminta jadi MC Akad nikah.
Awalnya aku ingin menolak, namun berhubung Mba Ani, yang menelpon waktu itu, sangat memohon akhirnya aku menerima tawaran itu.
Bingung, pastinya. Aku belum punya pengalaman terkait menjadi MC Akad Nikah.  Apalagi tiba – tiba pihak keluarga minta semua konsep acara dari aku. :( AKhirnya berbekal niat dan tekad, aku nanya ke Mbah GUgel. Browsing sana sini, akhirnya aku menemukan referensi susunan acara akad nikah yang siap kujadikan referensi. Setelah disesuaikan sana – sini… persiapan menjadi MC Akad Nikah 90%.
Aku tiba di Masjid Al-Muhajirin tepat 30 menit menjelang acara. Hehe… karena pengalaman pertama, tak mungkin aku memberikan kesan negatif dengan terlambat datang ke lokasi acara. Untunglah Pak Toto, pihak keluarga yang bertanggung jawab untuk akad orangnya kooperatif. Pak penghulu pun tiba 10 menit setelah aku datang.

Entah jadi kebiasaan, Pak Penghulu mengisyaratkan padaku untuk memberitahukan keluarga bahwa beliau terburu – buru jadi acara harus dimajukan. Setiap mengikuti akad nikah selalu diwarnai hal beginian dimana Pak Penghulu tak bisa mengikuti prosesi akad hingga akhir MC menutup acara. Dan ini berlaku juga pada pernikahan Mba Ani dan Bang Adih ini.

Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari pengalaman pertama ini. Gemeteran masih terjadi pada tangan disaat aku membuka acara. Padahal kedatangan awalku di lokasi acara adalah untuk menguasai keadaan agar nantinya tidak gugup. Jadi sarannya, setelah datang lebih awal adalah saatnya kita untuk mengakrabkan diri dengan penghulu, pengisi acara yang lain seperti Qori’, Ustadz yang akan memberikan Hikmah dan Nasehat pernikahan, juga keluarag mempelai. Ini tak lain agar kita sudah merasa terbiasa dengan kondisi keluarga.
Mungkin aku lebih gugup dari Bang Adih, mempelai pria. Bagaimana tidak menjelang akad teks susunan acara yang kupegang masih bergoyang – goyang. Hehehe
Tapi ternyata ada juga yang lebih gugup dari aku. Yups…. Wali nikahnya. Kegugupan wali nikah tak hanya ditemukan pada pernikahan kali ini. Beberapa akad nikah yang aku ikuti, banyak wali nikah yang sampai harus dibimbing mengucapkan Ijab. Jauh lebih gugup ketimbang mempelai pria yang menikah (baca:mengucapkan Qobul). Aku belum punya solusi untuk hal ini. Tapi penyebabnya mungkin kesedihan berbalut kebahagiaan wali yang akan melepas putri yang disayanginya.
Eniwei, pengalaman pertama ini memberikan pelajaran berharga terkait kepembawa acaraan. Lain kali harus lebih baik. Dan tentunya selain memperkaya khazanah tentang pengetahuan, aku juga harus segera menyusul menjadi orang yang mengucapkan Qobul. Entah Kapan :-D

Post a Comment

2 Comments

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda