Perang Salib, MediaTransfer Kebudayaan Islam (Bagian 2)

Tulisan ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Di artikel terdahulu sudah disebutkan bahwa Perang Salib mampu menjadi media transfer budaya dan ilmu pengetahuan Islam ke dunia barat. Selain bahasa Arab yang banyak dipelajari orang Barat masa itu, sejumlah peradaban Islam juga terserap ke dunia Barat.

Pengetahuan kedokteran Islam juga terbukti sudah unggul di masa tersebut.

Usamah Ibn Munqidh, seorang politikus dan diplomat era itu, pernah melihat pasien wanita yang dikeluarkan otaknya hidup-hidup karena dokter kaum Frank itu menyangka ada setan yang bersarang di kepala wanita itu sehingga dia sakit. Akibatnya, tentu saja pasien wanita itu tewas. Dalam bidang ini terjadi interaksi yang sangat dinamis antara kaum Frank dan kaum Muslim. Sewaktu salah seorang anak pemimpin kaum Frank, Amalric, sakit, dia meminta Abu Sulayman, seorang dokter muslim, untuk mengobatinya. Setelah Salahuddin merebut Yerussalem, keluarga Amalric ini mengabdi kepada Salahuddin dan penerusnya (Hillenbrand, 2007: 440).

Dalam ilmu arsitektur, ada asumsi bahwa telah terjadi pertukaran ataupun percampuran budaya antara kaum Muslim dan kaum Frank. Misalnya saja penggunaan kembali bahan bangunan tentara Salib pada monumen-monumen Islam. Di dalam masjid Aqsha, misalnya, beberapa material bekas yang digunakan pada lengkungan-lengkungan depan bangunan merupakan ornament pahatan yang berasal dari bangunan tentara Salib abad kedua belas (Hillenbrand, 2007: 476).

Pintu masuk gereja di St.Jean d’Acre dibawa dari Acre pada 1291 dan dipasang di masjid al-Nashir di Kairo. Patina-patina (meja berbentuk sigma) yang antic kembali digunakan di masjid-masjid Suriah. Tampaknya motif dari perbuatan itu adalah untuk menegaskan kemenangan kaum Muslim atas tentara Salib.

Selain itu, banyak pula tempat minum yang dipahat dengan menggunakan gaya Arab sekaligus gaya kaum Frank. Para penguasa muslim dan kaum Frank biasa saling bertukar hadiah-hadiah mewah sebagai bagian dari kehidupan politik kemudian dipajang di rumah mereka masing-masing (Hillenbrand, 2007: 479-485).


Selain itu, petunjuk interaksi antara kaum Frank dan kaum Muslim di bidang ilmu pengetahuan ditandai dengan banyaknya kosakata Eropa yang mengambil dari bahasa Arab, diantaranya zenith (samt, ‘zenit’), azimuth (samt, ‘azimuth’), dan astrolabe (asthralab, ‘astrolab’). Ini menunjukkan bahwa Eropa berutang budi pada kaum Muslim dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peradaban
Michaud mengatakan bahwa tidak ada peristiwa yang lebih menentukan dalam sejarah Abad Pertengahan selain perang penaklukkan tanah suci, atau istilah itu kita kenal dengan perang Salib. Perang Salib jelas mempunyai dampak yang sangat besar, baik terhadap Eropa ataupun kaum Muslim. Diantara dampak itu adalah berkat Perang Salib, terjadi interaksi yang sangat intens antara Eropa (kaum Frank) dengan kaum Muslim di berbagai bidang seperti kebudayaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan lain-lain.

Karakter kaum Frank digambarkan tidak mengenal peradaban, jarang mandi, dan kotor. Berkat interaksinya dengan kaum Muslim, sedikit demi sedikit mereka mengenal peradaban. Begitu pula di bidang ilmu pengetahuan, banyak pemimpin kaum Frank yang belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu lain.

Yang menarik adalah terjadi percampuran budaya antara kaum Frank dan kaum Muslim dalam seni arsitektur. Ada juga beberapa kosakata Eropa yang asal katanya berasal dari bahasa Arab. Setelah perang Salib selesai, kaum Frank kembali ke negerinya masing-masing sambil membawa kebudayaan dan ilmu pengetahuan kaum Muslim yang telah menjadi satu di dalam diri mereka. Selanjutnya, nilai-nilai peradaban unggul itu mereka sebarkan ke seluruh Eropa hingga akhirnya terjadi Renaissance.

Oleh : Wahyu Awaludin
Sumber : netsains.com 
Gambar : Google.com

Post a Comment

0 Comments